Sunday, August 3, 2008

gara2 prajab...

huhu...
ada panggilan buat Diklat Prajab nih,...
gak tahu deh, musti seneng atau nggak. Diklat ini sih kata orang "amat vital", dan memang kenyataannya demikian.
tapi, kenapa aku mesti berangkat sendirian. kenapa dari kantorku hanya aku seoarang yang dapat panggilan gelombang pertama. kenapa, kenapa dan kenapa???

tak tahukah dikau apa yang sekarang kualami,
aku kesepian, sendirian. sementara teman2ku disini gantian ikut Prajab.

seharusnya ini tak jadi soal jika aku kerja atau ditempatkan di Kota yang accessable. tapi, aku di Sibolga, sayang. meski sedang di kota, tapi aku merasa seperti sedang di kampung. apa2 susah di dapat. warung makan jarang...

huhu...


nasib... nasib...

hari ini, aku tak tahu mau makan apa. aku jadi mikir... buat apa sih aku bekerja, buat apa sih aku punya gaji yg kata orang diatas rata2? klo ternyata aku mau makan saja susah.

hmmmh...
harusnya perjuangan berat masa kuliah tak layak terulang. biarlah jadi masa lalu... tapi, kenapa justru saat setelah apa yang orang harapkan datang, yaitu ketika bisa bekerja dan punya gaji; hidupku malah semakin merana, sengsara.

apalagi hari ini, ketika aku sendirian disini. maksudku tanpa teman yang biasa ada disekelilingku.
aku benar2 kesepian. kaluut...

seandainya klo orang tak makan gak bakal sakit, mungkin aku g akan makan. ini begitu menyusahkan. kota ini membosankan.

huhu...
tolooong aku. makanan, datanglah kepadaku. datanglah orang yang berbaik hati membuka rumah makan di dekat kosku...


jab.. prajab !!!

Prajab adalah satu kenangan yang tak kan terlupa. meski hanya sebentar, ini adalah salah satu proses hidupku, salah satu tahap tuk gapai masa depanku. masa depan yang aku gak tahu akan suram atau terang gemerlap. why not? klo g lulus diklat ini, aku harus mengulang lagi. dan.. klo udah ngulang masih g lulus juga. naas sudah. nasibku lah g bakal jadi pe-en-en.

hoho,... jab prajab...
Prajab sungguh kegiatan yang mengasyikkan, seandainya saja keasyikan itu tidak dinodai oleh si Gondrong (G), pembimbing yang kata orang bermuka garang hati bumerang. Subhanallah.

tiap pagi, kami diajak lari pagi terus senam... lalu mandi. setelah itu, juru masak yang aduhai telah selesai melakukan tugasnya dengan baik kami pun sarapan. meski kadang2 mereka telat juga, sehingga kami terpaksa mandi matahari di lapangan, PBB dulu. tapi, tak apa, paling juga sebentar. setelah itu toh akan tergantikan dengan kenikmatan masakan para juru masak yang baik hati.


hmmm...
menjelang siang, kami diajak bermain. uh.. kayak anak2 saja. tapi ternyata asyiik bgt loh.. meski udah remaja, bahkan dewasa, bermain bukan sesuatu yang membosankan. justru jadi sesuatu yang sangat meghibur. seru deh... lari-lari, teriak-teriak, kejar-kejaran, ketawa-ketiwi... uh...
udah seneng gitu, eh... sang juru masak menunjukkan kebaik-hatiannya dengan menyuguhkan makanan ringan. klo tiap hari kayak gini, bisa gemuk lah... hehe... gemuk g ya? soalnya kan diimbangi dengan olahraga yang teratur... osh..

klo diklat buat orang2 yg udah gedhe, g lucu donk klo cuma main2. so, panitia juga ngasih kami materi sebagai pemerkaya hasanah pengetahuan. emang baik tuh panitia.

malemnya, karena kami banyak orang. kami bergiliran jaga. ronda gitu, lah...
wah, padahal sih sebenernya mata udah berat banget. tapi, harus teteup semangat, teteup berjuang... demi keamanan semua...

sampe pada satu malem, kami semua kecapaian....

dan...

kami semua kena dikerjai si G. huuu....hhh...

malam itu, kami semua tertidur pulas, termasuk teman yang dapet giliran jaga. seseorang pun berhasil menyelinap.. dan.. tanpa ketahuan berhasil menggelapkan sepasang sepatu, seutas arloji, dan sebiji modul diklat. selain itu, orang itu jg berhasil menyembunyikan seonggok kasur yg tergeletak lemah tanpa penghuni diatas dipan. kasur yg notabene adalah jatah teman yang sedang giliran jaga, tapi malangnya ketiduran di bangku...

esok harinya, dengan pura2 gak tahu (emang,, sebenernya tahu gak ya?), si G bersandiwara, dan akhirnya kami pun dihukum akibat kelalaian kami. hiks...
dan hukuman demi hukuman masih berlanjut hingga malam tiba.

dan klimaksnya, yaitu ketika dia menunjukkan foto kurang senonoh dr salah satu teman kami yang tertangkap kameranya. temanku benar2 dipermalukan, hanya gara2 tidur hanya dengan berbalut celana dalam dan kain sarung. yang, ntah bagaimana, G berhasil mengambil gambar pada saat dia tertidur dengan pose menantang. ah...

ah.. sang teman dapet tambahan hukuman lagi... kasian...

pada hari penghabisan...
akhirnya sang pelaku pun mengakui semuanya. si G, sang penyelinap memang sengaja ngerjain kami...
uh... KENA DEH!!!


Uang itu… (2)

Beberapa hari berselang sejak ditemukannnya seonggok uang subhatku….

Pada suatu maghrib, saat aku baru saja selesai solat, dan sedang bersiap hendak melakukan ‘santap malam’….

Tiba-tiba…

Tuuut…
Dering HP`ku berteriak… nomor tak dikenal…

“halo…”
“hei, guys! Lg ngapain?”
“lg santai, ini siapa ya?”
“ini opick…”

Tanpa bla bla bla, ku jawab:
“Oooo.. kamu to nDul. Pa kabar sekarang, masih di Salatiga?”
“Salatiga mbahmu kui…”, kata dari seberang sana memarahiku…

Loh… sejenak aku jadi binun ...


“aku tu temenmu yang di Aceh”….
“oh…. Maap…”, ternyata aku salah kira… hehehe…
“ada apa, tumben telepon…”, lanjutku
“ya pengen denger suaramu ajah. Gmn kantormu? Udah dapet seksi blom disana?”

Singkat kata, aku pun menceritakan secara panjang lebar mengenai tetek bengek yang aku tahu mengenai kantorku. Lalu, setelah agak lama ngobrol ngalor-ngidul gak ada juntrungnya, dia lalu bilang…

“OK guys,, itu tadi baru pembukaannya…”

Loh, pembukaan aja udah segitu panjangnya, pikirku.

“intinya…”, dia melanjutkan. “kemaren kan E nemuin duitmu nih, nah.. skrg gw lg butuh duit bgt. Boleh g duitmu tuh gw pake dulu. Gini, sebenernya gw ada perhitungan sendiri, harusnya gw g sampe semiskin ini seandainya gw dapet panggilan diklat setahap lebih cepat. Naasnya, gw dapet panggilan pada periode terakhir. So, selama nunggu buat diklat, gw yg masih tinggal di pelosok ini, g bisa ngambil duit, dsb. Dengan duitmu, gw akan ttp bisa bertahan hidup, setidaknya hingga akhir bulan. Gimana, boleh ga?” sambungnya panjang lebar…
“Ok, pake aja lah…”, jawabku iba. Kok bisa2nya ada temen yg ngalamin nasib sedemikian mujurnya, sampe mo makan aja susah. Subhanallah…

Akhirnya, uang itu kepake juga. Smoga berkah…


uang itu....??? (1)

8 Juli 2008, 08:30:28

HP`ku berdering tanda SMS masuk, buru2 aku buka...
'telpon ak gus', pesan yang singkat dari temenku.

aku pun segera menuruti keinginannya, kutelepon dia....
tuuut....

"halo gus, kau udah pernah kehilangan uang 700rb blom?",tanyanya...
"udah... bla.. bla.. bla... ", jawabku.

singkatnya, temenku telah berhasil nemuin duitku yang ilang hampir setahun yang lalu. duit yang sebenernya aku sendiri udah merelakan kepergiannya...

Tapi, tak apalah. itu berarti masih rezekiku. kukira uang itu bukanlah hakku, sehingga waktu itu menghilang dengan misterius. yah, sangat misterius... tak mungkin dicuri oleh manusia. karena, setahuku dan aku yakin, hanya aku seorang yang tahu tempat penyimpanan rahasiaku. sungguh seakan diambil makhluk gaib. padahal... aku tak yakin kalo makhluk gaib sekalipun mau mengambil uang itu.


pada masa2 kuliahku, jumlah itu sudah cukup besar. setidaknya lebih besar dari uang sakuku sebulan. dan pada saat aku kehilangan, aku tak pernah merasa sedih, merasa berat, ataupun apa sebagai akibat ditinggalkannya. mungkinkah hati ini telah kembali fitrah dengan tak begitu mengharap gemerlap kehidupan duniawi? tak mungkin, nyaris mustahil bagi orang yang masih lemah iman sepertiku.

uang itu bukanlah uang saku jatah dari ortu, bukan juga hasil tabunganku. kalo dibilang hasil kerja, bisa benar bisa juga tidak. yang pasti itu rezekiku. gak tahu uang itu halal atau haram, uang subhat. tapi, kuanggap saja halal. toh, aku tak menerima dari cara yang tidak benar, atau aku telah melakukan sesuatu yang melanggar peraturan. atau bahasa kerennya "korupsi". aku telah bekerja, bekerja sesuai prosedur. meski statusku hanya sebagai pegawai magang. terus, apa salahnya klo atasanku berbaik hati memberi, berbagi. sudahlah... husnuzzan saja...
Masalahnya, itu bukan pendapatan dari jalur resmi. sedang instansiku terkenal dengan praktik2 penyelewengan yang tak bisa dibenarkan dengan undang-undang. Dari jalur resmi, aku sudah dapet jatah dari kantor pusat. Jatah yang selama belom ada SKPP, akan selalu setia mengisi rekeningku. Uh... indahnya...

Hmmm...
So, what should I do?

Aku mulai bingung, apa yang mesti kulakukan sekarang...
Oh, God! Help me!!! Beri daku petunjuk....